Puja
oleh: Akhmad Janan NA (Raghiel Ard)
“Sang Hyang Widhi murka… Sang Hyang Widhi murka” teriakku dengan nafas terengah-engah. Berlari mencari
para sujana, memohon bantuannya.
“Tidak mungkin Sang Hyang Widhi murka, kita selalu
memujanya setiap saat. Apa yang kurang dari kita?” ucap seorang kakek yang
menjumpaiku di jalan.
“Tapi itu kenyataanya, guncangan mulai melanda, dan… dan…
dan gunung juga mulai mengeluarkan isi perutnya.” jawabku masih terengah-engah.
“Tapi, apa dosa kita?” kakek bertanya dengan kening
berkerut.
“Aku tak tahu, Kek. Mari kita tanyakan pada para sujana
dan minta bantuannya.” jawabku.
Aku
terus berlari mencari para sujana yang tinggal tidak terlalu jauh dari kaki
gunung. Sesampainya di rumah sujana itu, aku langsung menyatukan telapak
tanganku, melakukan namaskara sembari memohon bantuannya.
“Hmmm.
Dosa kalian terlalu besar! Aku tak yakin Sang hyang Widhi mau memaafkan dosa
kalian.” ucap seorang sujana yang terlihat paling tua.
“Ta…tapi
apa dosa kami. Kami selalu melakukan puja setiap saat. Apakah itu tidak cukup?”
tanyaku penuh tanda tanya.
“Kalian
itu serakah, egois dan selalu menginginkan hasil yang lebih dengan usaha kalian
yang setengah mentah!” jawab sujana itu lantang.
“Tapi…
tolonglah kami. Kami akan mencoba merubah sifat kami,” pintaku.
“Baiklah.”
jawabnya.
Para
sujana pun akhirnya pergi bersamaku untuk melakukan sembah puja namaskara.
“Om Bhur Bvah Svah
Tat Savitur Varenyam
Bhargo Devasya Dimahi
Diyoyonah Pracodayat”
Suara puja dari para sujana mengalun merdu. Sembah namaskara pun
menjadikan pemandangan menarik di kaki gunung Mahameru. Memberikan nuansa damai
bagi orang yang mendengarnya. Begitupula Dia, Sang Hyang Widhi yang tengah
murka kepada masyarakat kaki gunung Mahameru. Perlahan namun pasti, amuk
kemurkaan dari Sang Hyang Widhi mulai mereda. Hanya tinggal guncangan kecil yang melanda. Gunung sudah
berhenti memuntahkan material-materialnya, hanya tersisa semburan-semburan pasir
dengan bau menyengatya.
Kami sungguh bersyukur, Sang Hyang
Widhi masih memaafkan kami yang penuh akan dosa ini. Dalam puja ini, kami juga
melakukan ikatan janji dengan Sang Hyang Widhi.
“Om Shanti Shanti
Shanti Om
Om Bhur Bvah Svah
Tat Savitur Varenyam
Bhargo Devasya
Dimahi
Diyoyonah
Pracodayat”
Semarang, 19 Juni 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar