9/03/2015

Puja


Puja
oleh: Akhmad Janan NA (Raghiel Ard) 

            “Sang Hyang Widhi murka… Sang Hyang Widhi murka” teriakku  dengan nafas terengah-engah. Berlari mencari para sujana, memohon bantuannya.
            “Tidak mungkin Sang Hyang Widhi murka, kita selalu memujanya setiap saat. Apa yang kurang dari kita?” ucap seorang kakek yang menjumpaiku di jalan.
            “Tapi itu kenyataanya, guncangan mulai melanda, dan… dan… dan gunung juga mulai mengeluarkan isi perutnya.” jawabku masih terengah-engah.
            “Tapi, apa dosa kita?” kakek bertanya dengan kening berkerut.
            “Aku tak tahu, Kek. Mari kita tanyakan pada para sujana dan minta bantuannya.” jawabku.
Aku terus berlari mencari para sujana yang tinggal tidak terlalu jauh dari kaki gunung. Sesampainya di rumah sujana itu, aku langsung menyatukan telapak tanganku, melakukan namaskara sembari memohon bantuannya.
“Hmmm. Dosa kalian terlalu besar! Aku tak yakin Sang hyang Widhi mau memaafkan dosa kalian.” ucap seorang sujana yang terlihat paling tua.
“Ta…tapi apa dosa kami. Kami selalu melakukan puja setiap saat. Apakah itu tidak cukup?” tanyaku penuh tanda tanya.
“Kalian itu serakah, egois dan selalu menginginkan hasil yang lebih dengan usaha kalian yang setengah mentah!” jawab sujana itu lantang.
“Tapi… tolonglah kami. Kami akan mencoba merubah sifat kami,” pintaku.
“Baiklah.” jawabnya.
Para sujana pun akhirnya pergi bersamaku untuk melakukan sembah puja namaskara.

“Om Bhur Bvah Svah
Tat Savitur Varenyam
Bhargo Devasya Dimahi
Diyoyonah Pracodayat”

            Suara puja dari para sujana mengalun merdu. Sembah namaskara pun menjadikan pemandangan menarik di kaki gunung Mahameru. Memberikan nuansa damai bagi orang yang mendengarnya. Begitupula Dia, Sang Hyang Widhi yang tengah murka kepada masyarakat kaki gunung Mahameru. Perlahan namun pasti, amuk kemurkaan dari Sang Hyang Widhi mulai mereda. Hanya tinggal guncangan kecil yang melanda. Gunung sudah berhenti memuntahkan material-materialnya, hanya tersisa semburan-semburan pasir dengan bau menyengatya.
            Kami sungguh bersyukur, Sang Hyang Widhi masih memaafkan kami yang penuh akan dosa ini. Dalam puja ini, kami juga melakukan ikatan janji dengan Sang Hyang Widhi.

“Om Shanti Shanti Shanti Om
Om Bhur Bvah Svah
Tat Savitur Varenyam
Bhargo Devasya Dimahi
Diyoyonah Pracodayat”


Semarang, 19 Juni 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau Hidup Sehat dan Cerdas? Yuk Konsumsi Ayam dan Telur!

Siapa sih yang gak mau hidup sehat dan cerdas? Pasti setiap orang yang kita tanya 100% menjawab MAU . Tapi sekedar kemauan tidak ak...